Skip to main content

10 Cara Meluruskan Kesalahan Anak Menurut Islam

Meluruskan Kesalahan Anak

Ahmadmarogi.com - Meluruskan Kesalahan Anak telah di contohkan dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) telah memberikan panduan terbaik dalam mendidik anak.

Tak luput dari perhatian beliau adalah terkait bagaimana sebagai orang tua memahami tabiat anak dalam melakukan kesalahan.

Anak adalah mutiara yang berkilau, bersih, dan jernih. Ia terlahir dalam kondisi fitrah. Sikanya selalu cenderung dalam kebaikan.

Namun mengapa anak seringkali melakukan kesalahan? Seringkali di antara kita kerap tidak tau harus bagaimana meluruskan kesalahan anak terebut.

Sebuah pembahasan apik tersaji dalam buku Prophetic Parenting, dalam bab Metode Menghukum Anak yang Mendidik. Diuraikan dengan jelas bagaimana cara orang tua meluruskan kesalahan anak dengan “hukuman” yang sifatnya mendidik.

Mengapa anak melakukan kesalahan?

Meluruskan Kesalahan Anak

1. Karena adanya kesalahan dalam pemahaman anak

Anak tidak tau bahwa apa yang dilakukannya salah. Anak tidak tau bahwa semestinya mereka melakukan ini atau itu. Inilah yang mesti kita luruskan. Sehingga ia bisa mengerti mana yang haq dan yang bathil.

2. Karena ketidaktahuan anak dalam aplikasi/praktik yang benar

Anak salah melakukan sholat, karena ia tidak tau bagaimana cara sholat. Sekedar teori tak bisa memberikan gambaran jelas untuk anak dalam berbuat.

3. Karena adanya jiwa pemberontak dalam diri anak (kesengajaan anak) untuk melakukan kesalahan

Pendidikan yang dikatakan berhasil yaitu pendidikan yang mampu meluruskan kesalahan anak tersebut. Meluruskan pemahaman anak, mengajari anak dengan praktik, serta meminimalkan jiwa memberontak anak untuk berkebaikan.

Bagaimana cara meluruskan kesalahan anak?

Meluruskan Kesalahan Anak

Berikut adalah kiat-kiat yang seharusnya orang tua atau pendidik lakukan untuk meluruskan kesalahan anak tersebut. Rasulullah SAW. telah mencontohkan kepada kita dengan gamblangnya.

1. Meluruskan kepahaman anak dengan penuh kerendahan hati

Diawali dari bagaimana orang tua/pendidik mengatur perasaan hatinya. Sehingga apa yang terucap lisan pun menentramkan sang anak.

Diriwayatkan dari Abu Dawud dari Abdurrahman bin Abi ‘Uqbah rahimahullah, dari bapaknya (dia adalah bekas budak orang Persia).

Dia katakan:Aku ikut dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Aku menikam seorang musyrik dan aku ucapkan, “Ambillah ini dariku. Aku adalah anak Persia!!”

Rasulullah berpaling kepadaku dan bersabda, “Bagaimana kalau engkau ucapkan: Ambillah ini dariku. Aku adalah anak Anshar? Putra saudara perempuan suatu kaum termasuk dari kaum tersebut”

Ada sebuah kalimat apik: “Bagaimana kalau engkau ucapkan…” Rasul meluruskan kepahaman anak tidak dengan kalimat paksaan.

Namun dengan kalimat ‘bagaimana jika…”. Kalimat ini tentunya lebih disukai oleh anak-anak kecil. Bahkan kita pun lebih senang karena merasa lebih dihargai apa yang kita lakukan.

2. Berikan alasan mengapa sesuatu itu salah atau tidak boleh.

Suatu ketika, Al Hasan bin Ali ra. mengambil sebutir kurma sedekah dan memasukkan ke mulutnya.

Rasulullah bersabda, “Jangan, jangan, buang! Tidakkah engkau tau bahwa kita tidak mengonsumsi sedekah?” (HR bukhari dan Muslim)

Al hasan bin Ali mengambil kurma itu karena tidak tau larangan itu sebelumnya. Maka, rasulullah langsung menegur dan memberikan alasan bahwa mereka tidak boleh mengonsumsi sedekah.

Berikan alasan kepada anak kita terkait apa yang kita larang. Jangan asal melarang ini melarang itu. Tapi kita tidak memberikan penjelasan kepada anak mengapa tidak boleh.

Penjelasan ini justru membuat anak paham dan mengerti. Sehingga membuatnya gampang menurut.

3. Menggunakan bahasa yang lembut dan indah.

Anak suka kelembutan. Anak tidak suka dibentak-bentak. Dan anak suka jika kita memainkan bahasa sehingga terdengar indah dan menyejukkan di telinganya.

Kelembutan dan keindahan ini membuatnya lebih mau untuk mengikuti koreksi kesalahan yang kita lakukan.

4. Menggunaan sapaan langsung

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah, Rasulullah melihat budak kami yang bernama Aflah, apabila sujud, dia meniup debu dari tempat sujudnya. Beliau bersabda, “Hai Aflah, biarkanlah debu-debu itu di wajahmu.”

Aflah sebelumnya tidak paham bahwa tak boleh kita meniup tempat sujud untuk menghindari debu ketika sujud. Maka, cara Rasul mengingatkan dengan menggunaan sapaan langsung.

Sehingga langsung ke yang bersangkutan dan anak akan lebih mengingatnya (lebih pribadi).

5. Berikan solusi alternatif supaya tujuan anak tetap tercapai

Abul Hakam al-ghifari berkata, Nenekku telah menceritakan kepadaku dari paman Abu Rafi’ bin ‘Amr:Ketika aku masih kecil, aku suka melempari pohon kurma kaum Anshar.

Maka hal ini dilaporkan kepada Nabi SAW. “Ada anak kecil yang suka melempari pohon kurma kami.” Aku pun dibawa menghadap Nabi.

Beliau bertanya, “Hai anak kecil, kenapa kamu melempari pohon kurma?” Aku jawab, “Untuk aku makan.”

Beliau bersabda, “Janganlah melempari pohon kurma. Makanlah apa yang jatuh di bawah.” Kemudian beliau mengusap kepalaku dan berdoa, “Ya Allah, kenyangkanlah perutnya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dll)

Ada beberapa hal yang menarik melihat hadits di atas. Pertama, berikan solusi alternatif kepada anak. Kita lihat di atas bahwa anak ingin makan kurma.

Tapi caranya salah bukan dengan melempar. Maka Rasul memberi jalan solusi. Yaitu memunguti buah yang jatuh dari pohonnya.

Ini sebagai pengganti dari melempari pohon dan menjatuhkan buah tanpa seizin pemiliknya.

6. Berikan sentuhan kasih sayang kepada sang anak

Cara meluruskan kesalahan anak selanjutnya, masih berkaitan dengan hadits pada poin 5. Rasulullah mengusap kepala sang anak.

Pelukan, sentuhan, dan ciuman adalah hal-hal yang disukai oleh anak-anak karena mereka merasa mendapat kasih sayang. Hal ini tentunya akan lebih melembutkan hati sang anak.

7. Doakan sang anak

Lihat bagaimana rasul langsung mendoakan sang anak supaya kenyang. Ada larangan, ada solusi alternatif, ada sentuhan cinta, dan ada doa.

Sebuah contoh yang sempurna dari Rasulullah SAW. Teladan terbaik kita dalam mendidik anak.

8. Hendaklah proses meluruskan kesalahan ini dilakukan oleh semua anggota keluarga

Dibutuhkan kerjasama seluruh anggota keluarga. Diawali dengan pemahaman yang sama di antara semuanya. Orang tua, paman, bibi, dan anak.

Bahkan dalam hadits di atas ada nenek yang turut bergotong royong mendidik anak. Jangan sampai ayah melarang A, tapi ibu justru memperbolehkannya.

9. Meluruskan kesalahan anak sembari menyampaikan hadits Rasul atau ayat Al Quran terkait hal tersebut

Dalam kitab Bukhari Muslim, dari Ibnu Umar. Dia berjalan melewati sekelompok anak Quraisy yang mengikat burung dan menjadikannya sebagai sasaran panah.

Ketika melihat Ibnu Umar, mereka berhenti. Ibnu Umar berkata, “Siapa yang melakukan ini? Allah melaknat orang yang melakukan ini. Sesungguhnya Rasul melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang ada ruhnya sebagai sasaran tembak”

Begitu juga ketika akan meluruskan kesalahan anak dalam bab makan. Bagaimana adab makan yang dicontohkan Rasul, adab ke kamar mandi, dan adab berpakaian.

Selalu jadikan Al-Quran dan Rasul sebagai rujukan dalam setiap perilaku kita dan keluarga. Termasuk dalam hal mengoreksi kesalahan.

10. Mempraktikkan dan memperlihatkan contoh yang benar kepada anak

Diriwayatkan dari Abu Dawud dari Abu Sa’id al Khudri. Bahwasanya Nabi sedang berjalan melewati seorang anak yang sedang menguliti kambing. Tetapi dia tidak melakukannya dengan baik. Rasulullah bersabda kepadanya, “Minggirlah, aku perlihatkan caranya.”

Beliau memasukkan tangannya antara kulit dan daging. Kemudian menekannya hingga masuk sampai batas ketiak. Setelah itu beliau pergi untuk mengimami shalat dengan tanpa berwudhu”

Begitu pula dengan para sahabat dalam memberikan kepahaman melalui praktek.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dari Abu Malik al-Asy’ari. “Wahai kaum Asy’ariyyin, berkumpullah kalian! Kumpulkan juga kaum wanita dan anak-anak kalian agar aku dapat memperlihatkan kepada kalian shalat Rasulullah saw.’

Mereka pun berkumpul dan mengumpulkan kaum wanita dan anak-anak. Dia lalu berwudhu. Dia memperlihatkan wudhu yang benar.

Setelah itu, dia maju membariskan kaum laki-laki. Lalu membariskan anak-anak di belakang barisan laki-laki. Kemudian membariskan kaum wanita di belakang barisan anak-anak.

Lihatlah. Dengan memperkenalkan hukum-hukum syariat melalui praktek. Anak akan langsung mendapat gambaran yang jelas, dan akan lebih minim kesalahan yang dilakukan.

Demikian, 10 cara meluruskan kesalahan anak menurut Islam yang telah dicontohkan Rasulloh SAW. kepada kita. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan mengamalkannya. Wallahu alam.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
-->