Skip to main content

4 Pokok Perhatian dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah

4 Pokok Perhatian dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah

Ahmadmarogi.com - Dalam pelaksanaan pendidikan karakter khususnya di sekolah, ada beberapa hal pokok yang perlu perhatian dan pemikiran lebih serius, tentang implementasi pendidikan karakter bagi anak.

Setidaknya ada empat hal, yaitu management dan prioritas, role model, penilaian, dan metode.

Pokok perhatian yang pertama untuk pendidikan karakter di sekolah adalah pertanyaan mengenai manajemen waktu dan prioritas.

Bagaimana kita mengatur waktu dalam pelaksanaan pendidikan karakter, padahal kita sudah mengajarkan sekian banyak mata pelajaran pada anak-anak, misalnya kita itu harus mengajarkan mengenai IPA kepada anak-anak, itu adalah satu porsi yang besar.

Lalu mengajarkan matematika, lalu masih mengajarkan mengenai ilmu sosial, lalu masih mengajarkan juga keagamaan, masih mengajarkan tentang kewarganegaraan, dan seterusnya.

Kapan kita itu akan mengajarkan mengenai pendidikan karakter? Belum lagi kita itu sedang berhadapan dengan prioritas.

Kita memprioritaskan suatu pelajaran biasanya di taruh pada waktu yang paling premium, yaitu waktu pagi hari. Seringkali yang terjadi adalah pagi hari pas anak segar segarnya, kita mengajarkan pelajaran yang dianggap paling penting.

Biasanya matematikalah di ambil porsi paling banyak, karena di anggap sekali. Lalu IPA juga menjadi porsi yang penting juga, lalu bagaimana dengan yang lain? contohnya dengan seni, musik, dan olahraga. misalnya diletakkan di waktu yang sudah tidak terlalu premium.

Anak sudah Lumayan mulai lelah sekitar jam 10 siang, setelah istirahat dan makan. Nah pertanyaannya, pendidikan karakter mau diletakkan di waktu mana? Ini adalah mengenai manajemen waktu dan prioritas, untuk pendidikan karakter di sekolah.

Terus yang kedua, siapa yang menjadi model? Karena pendidikan karakter tidak bisa sukses kalau tidak ada modal. Harus ada modelnya, harus ada teladannya.

Di sekolah itu siapa yang menjadi teladan dan menjadi modelnya untuk karakter-karakter tertentu? Ini menjadi suatu hal yang tidak gampang untuk dipikirkan oleh sekolah.

Apalagi kalau kita terapkan pada jenjang SMP, SMA, kuliah Apa lagi. Contoh sederhana, kalau di kampus profesor atau dosen datang ke kelas mengajar, hanya datang beberapa kali dalam seminggu, itupun hanya memberikan materi sesuai dengan bidangnya, tidak berbicara apapun soal karakter. Seringkali yang menjadi fokus perhatian dari mahasiswa adalah skill yang mau di ajarkan, tidak berhubungan dengan masalah karakter.

Sekarang siapa yang menjadi modelnya? Pertanyaan ini sangat perlu diselesaikan dengan serius untuk pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

Berikutnya adalah bagaimana kita bisa memberikan penilaian yang benar dan penilaian yang baik. Ini harus ada agreement di sekolah tersebut. Kalau kita memberikan nilai A misalnya.

Nilai A itu artinya apa sih? Contohnya anak sudah bisa memiliki karakter baik. Ini adalah general rolenya. tapi yang dimaksud dengan baik itu harus di definisikan.

Baik itu apa? Misalnya secara konkritnya, anak ini setiap bertemu dengan guru dia selalu menyapa, setiap kali bertemu dengan orang lain dia selalu ramah. Apakah sudah menunjukkan karakter baik? Bagaimana kita menilai hal itu?

Misalnya ketika dia bertemu dengan orang lain 10 kali, 9 kali dia ramah. Itu berarti karakternya baik, maka ini adalah suatu hal yang bisa kita pikirkan dengan lebih serius.

Tapi bisa di challenge juga, misalnya orang bertanya. Kalau dia cuman 8 kali dari 10 kali beretemu orang, oh itu masih baik. Kalau cuma 7 kali? ya itu masih baiklah. Kalau cuma 6 kali? ya kurang baik. Kalau 5 kali kurang baik. Perbedaan antara 7 dan 6 itu kan tipis, cuma beda satu.

Kenapa yang 1 nilainya baik dan yang satunya lagi kurang baik. Terus lagi turun misalnya, cuma 4 kali, itu tidak baik. Tadi yang 5 kurang baik, kenapa kok yang 4 Jadi tidak baik? Ini perbedaannya luar biasa besar.

Apalagi kalau sampai ditulis di raport, bahwa karakter anak tersebut kurang baik atau karakternya tidak baik. Apakah hal itu bisa memberikan suatu dorongan untuk anak itu lebih bersikap baik. Ini harus dengan serius dipikirkan, bukan sesuatu yang dengan gampang dan kita anggap remeh.

Terakhir ini adalah berurusan dengan metode. Waktu kita mau mengajarkan karakter, metodenya apa? metodenya adalah kuliah atau ceramah.

Jadi ada guru yang menjelaskan tentang karakter yang baik itu adalah ketika kita melihat orang miskin, kita memberikan makanan. Karakter yang baik itu adalah ketika kita bertemu dengan orang lain maka bersikap ramah.

Kemudian dihafalkan, lalu diujiankan tertulis, lalu dijawab. Kalau sudah bisa dijawab dengan benar, berarti dia memiliki karakter yang baik. Apakah seperti itu? Apakah itu metodenya? Kita semua tahu bahwa cara yang seperti ini tidak bisa untuk mendidik karakter seorang anak.

Maka harus dipikirkan metode yang tepat, bukan metode seorang guru yang berdiri di depan, lalu kasi ceramah, lalu diujiankan dengan sistem hafalan. Nah ini yang harus dipikirkan lagi dengan serius oleh para pendidik.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar